
Menitiskan Rindu di Pusara Sang Syarah Al-Bukhari: Ziarah Spiritual ke Makam Ibnu Hajar al-Asqalani
KAIRO — Rangkaian rihlah spiritual dan keilmuan yang ditapaki oleh pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an Lampung, KH. Abdul Hamid terus mengalir membawa derap kecintaan yang mendalam kepada para ulama pewaris risalah Nabi.
Menyusuri lembaran sejarah di bumi Mesir, langkah kaki sang kiai bersama rombongan berayun penuh takzim melanjutkan ziarah menuju pesarehan seorang mahaguru hadis dunia Islam, Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah.
Berdiri di hadapan pusara sang muallif kitab agung Fathul Bari, buncahan rasa haru dan takjub menyergap relung jiwa. Subhanallah, betapa takdir Allah menyimpan rahasia rindu yang begitu indah; sejak tahun 2006, lembaran-lembaran kitab Fathul Bari telah membersamai hari-hari sang kiai, menjadi teman setia di meja ruang tamu, dikaji, ditelaah, dan dirawat dengan penuh mahabbah. Dan hari ini, tepat pada hari Minggu, 20 September 2026, kerinduan panjang itu akhirnya berlabuh nyata—beliau bersimpuh langsung menziarahi makam pengarang kitab yang selama dua dekade membersamai denyut keilmuannya.
Lebih dari itu, ikatan batin dengan sang pengarang terasa begitu hidup dalam keseharian. Dalam setahun terakhir, di ruang tamu kediamannya, sang kiai sengaja menghadirkan “dua batu” pajangan—sebuah renungan batin yang senantiasa dijaga untuk menghadirkan keteladanan dua mutiara mazhab, Ibnu Hajar al-Haitami dan Ibnu Hajar al-Asqalani. Walau pada kesempatan rihlah kali ini takdir baru mengizinkan langkah kaki beliau bersimpuh di makam al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, rasa syukur tetap membuncah atas tersampaikannya ziarah ruhani yang sangat bermakna ini.
Sebelum doa penutup dipanjatkan di sisi makam, suasana ziarah semakin khusyuk tatkala pimpinan rombongan, Gus Muhammad Faiz, membuka lembaran kitab Fathul Bari dan membacakannya untuk para musafir ilmu. Hadist yang dibacakannya adalah hadis nomor 1876 tentang keutamaan kota Madinah, di mana iman akan kembali dan berkumpul ke Madinah, yang dihadirkan sebagai suluh motivasi ruhani menyongsong esok hari Senin tatkala rombongan bersiap melangkahkan kaki melanjutkan ziarah agung menuju tanah suci Madinah.
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ، حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : “إِنَّ الإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا”
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-Mundzir: Telah menceritakan kepada kami Anas bin ‘Iyadh ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah, dari Khubaib bin ‘Abdurrahman, dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya iman pasti akan berkumpul (kembali) ke Madinah sebagaimana ular berkumpul ke liangnya.'”
Maksud dari sabda Nabi SAW bahwa “iman akan kembali ke Madinah sebagaimana ular kembali ke liangnya” adalah bahwa iman berhimpun, berlindung, dan berpusat di kota Madinah, bagaikan seekor ular yang keluar mencari makan lalu kembali masuk dan berlindung ke dalam liangnya tatkala merasa terancam atau di akhir waktunya.
Para ulama menjelaskan bahwa pada awal Islam, kaum mukminin berkumpul di Madinah, dan kelak di akhir zaman pun iman akan kembali berpusat dan terjaga di sana, menjadikannya benteng suci umat Islam.
Pembacaan hadist penutup di sisi makam sang syarah hadist ini menjadi energi batin yang luar biasa, memupuk semangat hijrah dan kecintaan kepada Rasulullah SAW menjelang keberangkatan ke tanah suci Madinah.
Semoga ziarah penuh barakah ini semakin melapangkan jalan ilmu, meneguhkan sanad keulamaan, dan melimpahkan syafaat Baginda Nabi SAW kepada seluruh santri dan umat di bumi Nusantara.
Amin, ya rabbal ‘alamin.
Kontributor: Abdul Hamid
#RihlahSpiritual #ZiarahKairo #IbnuHajarAlAsqalani #FathulBari #PesantrenLampung
#PesantrenTerbesihSeLampung
#BukitRajawali #SejarahIslam
#MahabbatunNabi