Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Dialog Bersama Kalam Ilahi: Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali Melanjutkan Perjalanan ke Madinah Al-Munawwarah

Dialog Bersama Kalam Ilahi: Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali Melanjutkan Perjalanan ke Madinah Al-Munawwarah

MADINAH, Selepas merampungkan rangkaian rihlah ilmiah, ziarah bersejarah, dan penyerahan karya literasi di bumi Mesir, langkah kaki pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ ) Al-Husna Bukit Raja Wali, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh, bergerak melanjutkan perjalanan ke Kota Suci Madinah Al-Munawwarah, tempat bersemayamnya jasad Baginda Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan menuju Madinah ini merupakan perpindahan untuk menyerap nilai-nilai risalah kenabian. Di dalam Al-Qur’an, penyebutan nama kedua kota suci ini memiliki frekuensi tertentu dalam teks suci. Berdasarkan rincian ulumul Qur’an, kata Makkah (termasuk sebutan Bakkah) diabadikan secara tersurat sebanyak 4 kali (kata Makkah sekali dalam Surah Al-Fath ayat 24, kata Bakkah sekali dalam Surah Ali ‘Imran ayat 96, serta beberapa penyebutan isyarat lainnya).

Adapun kata Madinah (dengan lafaz Al-Madinah dan derivasi kata bentukannya yang merujuk pada kota Nabi) disebutkan berulang kali hingga sekitar 14 kali di dalam Al-Qur’an untuk merekam sejarah sosial, hijrah, serta pusat peradaban Islam.

Berikut adalah ayat-ayat suci yang mengabadikan kedua kota mulia tersebut:
Penyebutan nama Bakkah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 96:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia, ialah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”

Penyebutan nama Makkah dalam Surah Al-Fath ayat 24:

وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

Artinya: “Dan Dialah yang mencegah tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (mencegah) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Serta penyebutan kata Madinah dalam Surah Al-Munafiqun ayat 8:

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ

Artinya: “Mereka berkata, ‘Sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya’.”

Para ulama tafsir menjelaskan hikmah mengapa kedua tanah haram ini memiliki kedudukan yang saling menyempurnakan. Di Makkah berdiri Baitullah (Ka’bah) sebagai kiblat fisik dan pusat tauhid umat manusia, tempat fondasi keimanan bermula dan manusia menghadap dalam kepatuhan kepada Allah SWT.

Sementara itu, di Madinah, Allah memuliakannya dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW yang jasadnya bersemayam di sana, sekaligus menjadikannya pusat peradaban sosial, ukhuwah, dan penyebaran risalah kepada sesama manusia.

Keberadaan Ka’bah di Makkah dan Nabi Muhammad SAW di Madinah mengajarkan keseimbangan bahwa ibadah yang kokoh kepada Allah harus diiringi dengan keteladanan risalah serta kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Bagi siapa saja yang menyimpan kerinduan untuk berkunjung ke Makkah dan Madinah dalam rangka menunaikan ibadah haji maupun umroh, interaksi dengan Al-Qur’an dapat dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Membaca Al-Qur’an merupakan bentuk komunikasi dan dialog langsung antara seorang hamba dengan Allah SWT, sebagaimana ungkapan hikmah para ulama:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُكَلِّمَ اللَّهَ فَلْيَقْرَأْ الْقُرْآنَ

Artinya: “Barangsiapa yang ingin berbicara dengan Allah, maka hendaklah ia membaca Al-Qur’an.”

Dialog tersebut diperkuat dengan hadist qudsi sahih riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Allah SWT berfirman:
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي…

Artinya: “Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan: ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, Allah Ta’ala berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’…”

hingga akhir hadist, yang menunjukkan bahwa setiap ayat yang dibaca hamba mendapat tanggapan langsung di sisi-Nya.
Oleh karena itu, ketika membaca Al-Qur’an lalu lisan sampai pada lafaz atau penyebutan kata Makkah maupun Madinah, dianjurkan untuk berhenti sejenak, meresapi maknanya, lalu memanjatkan doa kepada Allah SWT:

“Ya Allah, hamba sedang membaca Al-Qur’an, dan saat ini sampai pada ayat atau kalimat Mekkah atau Madinah. Hamba belum pernah tahu Mekkah dan Madinah itu seperti apa ya Rabb, segerakanlah hamba sampai pada dua kota tersebut…”

Semoga perjalanan Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh, senantiasa dilimpahkan keselamatan, keberkahan, serta mampu membawa pulang inspirasi untuk membimbing para santri di PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali.

Kontributor: Achamd Husen

#KHAbdulHamid
#Ngobroldgnalquran
#IsyarahLangit
#RihlahIlmiah MadinahAlMunawwarah
#MakkahAl Mukarramah
#PPTQAlHusnaBukit RajiWali
#PesantrenTerbersihSeLampung
#KurikulumLangit

Exit mobile version