
Teguhkan Jati Diri, Lulusan Angkatan Kedua Al-Hamidy Pringsewu Diminta Istikamah dalam Menuntut Ilmu
PRINGSEWU, Bukit Raja Wali– Yayasan Al-Hamidy Pringsewu menggelar prosesi kelulusan angkatan kedua tahun ajaran 2025-2026 bagi santri SMP Qur’an Al-Hamidy dan SMA Plus Al-Hamidy pada Sabtu (16/05/2026) lalu. Sebanyak 55 santri, yang terdiri dari 31 santri SMP Qur’an dan 24 santri SMA Plus, dilepas dengan penuh khidmat untuk melanjutkan estafet perjuangan menuntut ilmu.
Kelulusan ini menjadi momen reflektif bagi para santri mengenai jati diri mereka sebagai generasi pembelajar yang berakar pada tradisi pesantren.
Syukur atas Kelulusan dan Prestasi Akreditasi
Kepala SMP Qur’an Al-Hamidy, Fatimatus Sa’adah, M.Pd., Al-Hafizhah, bersama Kepala SMA Plus Al-Hamidy, Nur Azizah, M.Pd., menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas keberhasilan santri angkatan kedua ini.
“Hari ini adalah buah dari kesabaran yang panjang. Kami bersyukur ke hadirat Allah SWT, angkatan kedua ini telah berhasil menuntaskan masa pendidikannya dengan penuh dedikasi,” tutur Fatimatus Sa’adah.Suasana haru dan bangga kian terasa karena sebelum prosesi kelulusan ini, SMA Plus Al-Hamidy telah menerima “hadiah” istimewa di awal Mei 2026, yakni terbitnya sertifikat Akreditasi dengan predikat nilai B. “Ini adalah kado manis bagi keluarga besar Al-Hamidy. Capaian akreditasi ini membuktikan bahwa kualitas pendidikan kita diakui dan terus meningkat,” tambah Nur Azizah.
Dalam kesempatan tersebut, keduanya juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para wali santri atas kepercayaan yang diberikan kepada Yayasan Al-Hamidy. “Terima kasih kepada bapak dan ibu wali santri. Kepercayaan Anda menitipkan putra-putri tercinta untuk dididik di sini adalah amanah besar bagi kami. Terima kasih telah bersabar dalam proses pendidikan yang menuntut kedisiplinan tinggi di lingkungan pesantren,” pungkas Nur Azizah.
Meneguhkan Jati Diri: Wajib Mukim sebagai Tradisi
Para kepala sekolah menegaskan kembali identitas khas santri Al-Hamidy bahwa santri yang menimba ilmu di lingkungan yayasan ini wajib mukim dan tidak diperkenankan untuk pulang-pergi.
“Santri di sini wajib mukim. Tidak ada istilah pulang-pergi. Belajar di sini adalah soal kebersamaan dalam ketaatan. Jati diri santri Al-Hamidy adalah kemandirian yang ditempa di balik tembok pesantren, jauh dari zona nyaman rumah, demi meraih keberkahan ilmu,” ujar Fatimatus Sa’adah.
Mereka juga memotivasi santri bahwa angkatan kedua ini terasa spesial karena dibimbing langsung oleh sosok Direktur Pascasarjana. “Santri harus bangga. Kalian ditempa oleh tangan-tangan ahli. Minimal, semangat dan dedikasi beliau-beliau ini harus mengalir dalam denyut nadi kalian semua,” imbuh Nur Azizah.Filosofi Man Tsabata Nabata
Pendiri sekaligus Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Assoc. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh, menyampaikan pesan yang menyentuh kalbu. Beliau mengingatkan para santri akan pentingnya keistiqamahan dalam satu almamater.
“Ingatlah kaidah man tsabata nabata (siapa yang menetap, maka ia akan tumbuh). Jika kalian berpindah-pindah pesantren, ibarat pohon yang akarnya terus dicabut, ia tidak akan pernah sempat berbuah. Selesaikan hafalanmu, tuntaskan pendidikanmu di sini. Janganlah menjadi pengembara ilmu yang tak berakar, karena ilmu yang berkah lahir dari tanah tempat kita menanamkan kesabaran,” Tegas Kia Hamid menyampaikan.Keteladanan Al-Fatih bagi Generasi Muda
Motivasi puncak disampaikan oleh Direktur Pascasarjana STIT Pringsewu, Assoc. Prof. Dr. Hi. Salamamun, M.Pd.I. Dalam orasinya, beliau mengisahkan sosok legendaris Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel di usia muda.“Muhammad Al-Fatih tidak menjadi penakluk karena kebetulan. Ia ditempa dengan kurikulum langit yang dipadukan dengan strategi bumi. Kalian adalah santri Al-Hamidy. Seperti Al-Fatih, kalian harus memiliki visi besar dan ketajaman intelektual. Jadilah penakluk tantangan zaman dengan hafalan Al-Qur’an di dada dan sains di kepala. Janganlah puas menjadi penonton, jadilah pemuda yang sejarahnya tertulis dengan tinta emas karena keteguhan prinsipnya,” pungkas Prof. Salamamun.
Menjemput Masa Depan di Al-Hamidy
Melihat keberhasilan para santri dalam menuntaskan jenjang pendidikan dengan bekal hafalan Al-Qur’an dan karakter yang kuat, Yayasan Al-Hamidy Pringsewu membuka pintu lebar-lebar bagi generasi penerus yang ingin menempa diri.
“Mari melangkah bersama, bergabunglah di PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali. Di sini, kita menerapkan konsep mondok sak sekolahe, sekolah sak mondoke—di mana sekolah dan pesantren menyatu dalam satu tarikan napas perjuangan.Jangan hanya mencari sekolah, tapi carilah tempat di mana ilmu pengetahuan dan cahaya Al-Qur’an bersenyawa membentuk jati diri yang kokoh. Masa depan kalian dimulai dari sini, tempat di mana benih kebaikan disemai dan dipastikan tumbuh menjadi pohon ilmu yang rindang bagi umat dan bangsa,” ajak para pengasuh dan kepala sekolah di akhir acara.
(Kontributor: Achmad Husen)