Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menenun Cahaya di Bumi Pringsewu: Jejak Cinta, Sanad Keilmuan, dan Keteguhan Khidmah Dr. KH. Abdul Hamid di Jalan Nahdlatul Ulama

Menenun Cahaya di Bumi Pringsewu: Jejak Cinta, Sanad Keilmuan, dan Keteguhan Khidmah Dr. KH. Abdul Hamid di Jalan Nahdlatul Ulama

PRINGSEWU — Di bawah naungan langit Lampung yang tenang, Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali dan Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Baitul Qur’an berdiri tegak sebagai menara air dan cahaya ilmu. Di balik keasrian lembaga ini, terukir sebuah kisah ketulusan yang mendalam dari sang pengasuh, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh—seorang ulama kharismatik yang tidak hanya mewariskan kedalaman samudra ilmu, tetapi juga mendedikasikan jiwa, raga, dan napas perjuangannya secara mutlak untuk Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Bagi Kiai Hamid, kecintaan kepada Nahdlatul Ulama bukanlah sekadar retorika keorganisasian di atas kertas, melainkan denyut nadi keimanan dan manifestasi cinta kepada para leluhur ulama. Sanad keilmuan beliau yang bersih, lurus, dan bersambung muttashil hingga Baginda Nabi Muhammad SAW menjelma menjadi kompas agung yang menuntun setiap langkah pengabdiannya.

Sanad Keilmuan: Kompas Kehidupan yang Otentik

Di PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, ilmu diyakini bukanlah sekadar tumpukan informasi fana, melainkan cahaya (nuur) yang ditransfer dari hati ke hati. Hal ini selaras dengan pesan emas Imam Abdullah bin al-Mubarak:

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ “Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, niscaya orang akan berkata apa saja yang ia kehendaki tanpa landasan.”

Keberkahan lembaga ini berpijak kokoh pada sanad yang diampu oleh Kiai Hamid, yang menjaga otentisitas ilmu melalui lima poros utama:

  1. Sanad Al-Qur’an: Transmisi wahyu suci melalui riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim hingga Baginda Nabi Muhammad SAW.
  2. Sanad Keilmuan (Kitab Kuning) Jalur K.H.R. As’ad Syamsul Arifin: Mata rantai intelektual melalui guru-guru beliau, KH. Yazid Karimullah dan KH. Asnawi.
  3. Sanad Keilmuan (Kitab Kuning) Jalur KH. Abdul Qodim Jember: Melalui KH. Abdul Qodim, KH. Khozin Bendo Pare, hingga Syaikhona Kholil Bangkalan.
  4. Sanad Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah: Bimbingan ruhani sebagai suluh dalam penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
  5. Sanad Organisasi (Nahdlatul Ulama): Legitimasi perjuangan yang merawat warisan para muassis NU.

Silsilah Sanad Keilmuan Kitab Kuning

Berikut adalah silsilah emas keilmuan yang bersambung tanpa putus hingga ke hadirat Rasulullah SAW:

  • Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I
  • KH. Yazid Karimullah & KH. Asnawi / KH. Abdul Qodim Jember
  • K.H.R. As’ad Syamsul Arifin
  • Syaikhona KH. Kholil Bangkalan
  • Syaikh Nawawi Al-Bantani
  • Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi
  • Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
  • Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi
  • Syaikh Abdullah Basyaib
  • Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Nahrawi
  • Syaikh Ibrahim Al-Bajuri
  • Syaikh Muhammad Al-Amir Al-Kabir
  • Syaikh Ahmad Al-Dardir
  • Syaikh Ali Al-Sha’idi
  • Syaikh Yusuf Al-Hifni
  • Syaikh Muhammad Al-Syurubashi
  • Syaikh Muhammad Al-Nafrawi
  • Syaikh Sultan Al-Mazahi
  • Syaikh Syamsuddin Al-Babli
  • Syaikh Salim Al-Sanhuri
  • Syaikh Najmuddin Al-Ghaithi
  • Syaikh Zakariya Al-Anshari
  • Syaikh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani
  • Syaikh Sirajuddin Al-Bulqini
  • Syaikh Al-Hafizh Zainuddin Al-Iraqi
  • Syaikh Alauddin Al-Qunawi
  • Syaikh Burhanuddin Al-Bana
  • Syaikh Abul Abbas Al-Hajjar
  • Syaikh Al-Hafizh Al-Mundziri
  • Syaikh Abu Al-Qasim Al-Hanafi
  • Syaikh Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Shalah
  • Syaikh Abu Al-Fath Al-Manshur
  • Syaikh Abu Al-Hasan Al-Daudi
  • Syaikh Abu Muhammad Al-Sarakhsi
  • Syaikh Abu Ali Al-Daqqaq
  • Syaikh Abu Al-Qasim Al-Qusyairi
  • Syaikh Abu Bakar bin Furak
  • Syaikh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari
  • Syaikh Abu Ishaq Al-Marwazi
  • Syaikh Abu Al-Abbas Al-Suraij
  • Syaikh Abu Al-Qasim Al-Anmathi
  • Syaikh Abu Ibrahim Al-Muzani
  • Imam Asy-Syafi’i
  • Imam Malik bin Anas
  • Imam Nafi’ Al-Madani
  • Sayyidina Abdullah bin Umar
  • Sayyidina Umar bin Khattab
  • Baginda Nabi Muhammad SAW

Silsilah Sanad Perjuangan (Khidmah NU)

  • Baginda Nabi Muhammad SAW
  • Syaikhona KH. Kholil Bangkalan
  • K.H.R. As’ad Syamsul Arifin
  • Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari
  • Para Masyayikh & Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
  • KH. Yazid Karimullah & KH. Asnawi
  • Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I

Merajut Rindu di Maqbarah dan Tanah Haram: Jejak Mahabbah kepada Sang Guru

Kecintaan seorang murid kepada sang guru bukanlah ikatan yang putus oleh batasan ruang dan waktu, melainkan simpul ruhani yang terus berdenyut dalam setiap doa dan ziarah. Dialektika cinta ini terpatri indah dalam langkah-langkah Kiai Hamid yang kerap melangkahkan kaki penuh takzim untuk berziarah ke maqbaroh Sang Pahlawan Nasional, K.H.R. As’ad Syamsul Arifin—menghirup kembali tetesan nurani dan semangat juang dari pusara sang mursyid agung.

Tak berhenti di haribaan bumi Nusantara, takdir cinta dan takdir keilmuan itu pula yang mempertemukan beliau di tanah suci Madinah Al-Munawwarah. Di kota Baginda Nabi SAW, bersemi sebuah perjumpaan yang penuh barokah dan kehangatan jiwa bersama putra terkasih sang guru, K.H.R. Kholil As’ad Syamsul Arifin. Di bawah naungan kubah hijau, di antara rindu yang bersimpuh pada kekasih Allah, pertemuan dua ikatan sanad ini menjelma menjadi saksi bisu atas lurusnya jalur mahabbah, tawadhu’, dan kesinambungan estafet risalah para ulama sepuh yang terjaga hingga hari ini.

Manifestasi Cinta yang Nyata untuk Nahdlatul Ulama

Kecintaan Dr. KH. Abdul Hamid kepada Nahdlatul Ulama tidak berhenti pada untaian kata, melainkan termanifestasi dalam karya nyata dan keindahan estetika di bumi Pringsewu:

  1. Panji Kehormatan di Gerbang Pesantren: Di bagian depan pesantren, bendera kebesaran Nahdlatul Ulama selalu berkibar gagah dan berdampingan erat dengan Sang Saka Merah Putih, menyimbolkan harmoni abadi antara cinta agama dan cinta tanah air (hubbul wathan minal iman).
  2. Relief Raksasa di Pagar Ndalem: Sebagai bentuk dedikasi visual yang megah, beliau membangun relief logo NU berukuran luar biasa di pagar arah masuk ndalem-nya, dengan tinggi mencapai 218 cm dan lebar 280 cm.
  3. Keanggunan Panji di Ruang Tamu: Di ruang tamu kediaman beliau, terbentang bendera NU berbahan kain berukuran besar yang bersanding harmonis dengan lambang pondok pesantren serta bendera Merah Putih, memancarkan aura ke-NU-an yang begitu kental.
  4. Sentuhan Seni Estetik: Dikenal sebagai sosok pencinta keindahan, Kiai Hamid menuangkan citarasa seninya melalui karya visual yang sarat makna, yakni menghadirkan ukiran logo NU dalam bentuk fisik berdiri mandiri tanpa menempel di dinding, tertata anggun di atas perabot sebagai sentuhan artistik yang memukau.
  5. Perintis RMI Pringsewu: Dalam kancah perjuangan organisasi, beliau adalah tokoh utama yang merintis dan diamanahkan sebagai Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) pertama kali di Kabupaten Pringsewu, meletakkan batu pertama bagi kemajuan pesantren-pesantren NU di wilayah tersebut.
  6. Integritas Tanpa Kompromi dalam Berorganisasi: Saat ini, beliau aktif tercatat sebagai pengurus JATMAN (Jami’ah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah). Suasana keakraban dan rasa syukur yang mendalam turut terpancar manakala beliau mengenang momen kebersamaan dalam sebuah potret hangat bersama Kiai Halwani—jauh sebelum beliau diamanahi sebagai pimpinan tertinggi JATMAN. Kini, dengan rasa bahagia yang luar biasa, Kiai Hamid menyaksikan Kiai Halwani resmi menakhodai JATMAN. Namun di balik itu, integritas moral beliau tetap terjaga mutlak; tatkala ada oknum yang tidak bertanggung jawab sempat mencatut namanya dan memasukkan beliau ke dalam struktur organisasi JATMA secara sepihak tanpa koordinasi, Kiai Hamid dengan tegas menyatakan sikap tidak ridha atas pencatutan tersebut, membuktikan bahwa khidmah harus ditegakkan di atas landasan kejujuran dan keikhlasan murni.

Wasiat Abadi dan Pesan Tegas untuk Para Santri

Kepada para mutakharrijin dan mutakharrijat yang terhimpun dalam HIMMAH BQ (Himpunan Mutakharrijin Mutakharrijat Al-Husna & Baitul Qur’an), Kiai Hamid menitipkan wasiat berharga agar senantiasa merawat himmah (tekad membaja) di samudra kehidupan:

“Menjaga NU bukan sekadar berorganisasi, melainkan merawat akar keilmuan dan memeluk keberkahan yang telah dititipkan di dada kalian. Jangan pernah sekali-kali berpaling atau keluar dari jalan perjuangan Nahdlatul Ulama saat kalian telah melangkah boyong ke tengah masyarakat. Pesan tegas Abyna kepada seluruh santri BR dan BQ, jangan pernah keluar dari NU; sebab restu Abyna adalah kunci keberkahan hidup kalian, dan Abyna tidak akan meridhai siapa pun di antara santri yang memutus simpul perjuangan suci ini.”

#NahdlatulUlamah #PPTQAlHusna #PPMBaitulQuran #Pringsewu #JATMAN #SanadKeilmuan #SantriNU #KHAbdulHamid #KHRKholilAsad #AhlussunnahWalJamaah #KhidmahNU

Exit mobile version