
Khidmat Intelektual Nahdliyin Lampung: Pengasuh PPTQ Al-Husna Kiai Abdul Hamid Sambut Undangan Menulis Buku Antologi Muktamar ke-35 NU
LAMPUNG — Menyambut perhelatan akbar Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung secara resmi mengundang para kiai, bu nyai, pengasuh pesantren, santri, pengurus NU, warga Nahdliyin, akademisi, serta masyarakat luas untuk berkontribusi menuangkan gagasan dalam sebuah buku antologi khusus. Undangan terbuka ini mengusung tema besar “Dari Pesantren untuk Umat: Meneguhkan Marwah, Merawat Amanah.”
Partisipasi aktif datang dari berbagai kalangan akademisi dan pengasuh pesantren di bumi Lampung. Salah satu ulama yang turut ambil bagian dalam ikhtiar intelektual ini adalah Pengasuh Pondok Testantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali, Pringsewu, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh.
Beliau menyerahkan naskah esai bernas dengan judul “Menjemput Fajar Abad Kedua: Jejak Sanad, Gema Pesantren, dan Rindu yang Berlabuh di Jombang.”
Panitia penyelenggara membuka kategori naskah berupa Opini, Esai (dengan rentang 800–1,300 kata), serta Puisi (maksimal 2 halaman A4) yang dikumpulkan paling lambat pada 5 Agustus 2026 melalui surat elektronik ke nulampungmuktamar35@gmail.com.
Berikut adalah naskah esai lengkap karya Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh yang dikirimkan untuk berpartisipasi dalam antologi tersebut tanpa dikurangi sedikit pun:
Menjemput Fajar Abad Kedua: Jejak Sanad, Gema Pesantren, dan Rindu yang Berlabuh di Jombang
Oleh: Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh
Di balik dinding-dinding malam yang mendekap sunyi bilik pesantren, lampu pelita tak pernah benar-benar padam. Ia terus merajut dzikir, mengeja lembar-lembar kuning kutub al-turats, dan merawat denyut nafas peradaban yang diwariskan para sepuh dari masa ke masa. Dari rahim bumi pesantren inilah Nahdlatul Ulama tumbuh—bukan sekadar sebagai sebuah catatan administratif jam’iyah, melainkan sebagai samudera keikhlasan yang mengalirkan mata air sanad keilmuan dan perjuangan tanpa terputus. Di tempat inilah para santry menempa diri, memahami bahwa ilmu bukanlah sekadar deretan teks yang dihafalkan di luar kepala, melainkan sebuah amanah spiritual yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT dan para guru.
Mata rantai perjuangan ini mengalir begitu murni, merajut simpul batin yang tersambung kokoh hingga Baginda Nabi Muhammad SAW, melintasi mahaguru agung tanah Jawa Syaikhona KH. Kholil Bangkalan, melalui estafet mandat dan isyarat tongkat tasbih yang dibawa oleh K.H.R. As’ad Syamsul Arifin Situbondo kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Jalur keilmuan ini semakin berpijak pada fondasi yang teguh berkat bimbingan langsung dari KH. Yazid Karimullah, KH. Asnawi, serta kedalaman ilmu yang diwariskan oleh KH. Abdul Qodim Jember. Sebagai dahan yang tumbuh subur dari akar besar bernama Nahdlatul Ulama, sanad ini mengingatkan setiap santri bahwa menjaga NU bukan sekadar berorganisasi, melainkan memeluk keberkahan yang dititipkan di dalam dada.
Pesan itu begitu tajam dan mengakar: jangan pernah sekali-kali berpaling atau memutus simpul perjuangan ini saat melangkah boyong ke tengah masyarakat, sebab restu dan ridha guru adalah kunci utama keselamatan hidup, penawar segala duka, serta kompas yang menuntun jalan pulang menuju ridha Ilahi.
Kini, tatkala roda zaman berputar kencang membawa gelombang disrupsi, modernitas digital, serta krisis orientasi moral yang melanda generasi muda global, pesantren tetap tegak berdiri sebagai mercusuar peradaban. Di tengah bisingnya dunia yang kehilangan arah, nilai-nilai wasathiyah (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan tradisi khidmah tanpa batas yang diwariskan para masayikh menjelma menjadi penawar paling jujur. Panggilan sejarah itu kini kembali bergemuruh menyambut Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang. Sebuah perhelatan akbar yang bukan sekadar ruang konsolidasi struktural lima tahunan, melainkan titik temu rindu yang buncah bagi para penjaga panji Ahlussunnah wal Jamaah untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dan keagamaan.
Dari ujung barat Pulau Sumatera, tepatnya dari tanah Pringsewu, Lampung—wilayah yang pernah menjadi saksi bisu gelora langkah awal pengabdian manakala amanah Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) pertama kali diletakkan di atas pundak semenjak kabupaten ini mekar dari Tanggamus—sebuah tekad bulat ditunaikan. Perjalanan panjang membangun basis keulamaan, membina lembaga pendidikan Islam tradisional, serta merawat denyut dakwah di akar rumput telah memberikan pelajaran berharga bahwa dinamika organisasi harus selalu disandarkan pada nilai-nilai ketulusan para pendahulu. Dengan membawa serta sanad keilmuan, takzim kepada para mursyid, serta kerinduan yang mendalam pada jam’iyah, insyaallah derap langkah ini akan hadir membersamai detik-detik pembukaan Muktamar ke-35 di Jombang, menyatu dengan ribuan pejuang dakwah dari seluruh penjuru nusantara.
Muktamar ini adalah fajar baru di abad kedua. Momentum ini menuntut keseriusan seluruh elemen jam’iyah untuk merumuskan langkah-langkah strategis yang solutif bagi kemandirian umat, mulai dari penguatan ekonomi pesantren, peningkatan mutu pendidikan kader, hingga perluasan jangkauan dakwah kultural yang ramah dan mencerahkan. Dari pesantren untuk umat, marwah diteguhkan, amanah dirawat dengan penuh kehati-hatian, dan air mata keikhlasan ditumpahkan demi menjaga keutuhan bangsa serta tegaknya NKRI. Semoga setiap goresan pena, doa yang dipanjatkan, dan derap langkah yang hadir di bumi Jombang kelak menjadi saksi di hadapan para sesepuh, bahwa ikatan sanad, darah perjuangan, dan cinta kita pada Nahdlatul Ulama tidak akan pernah lekang oleh waktu, tergerus oleh zaman, atau tergantikan oleh kepentingan sesaat. Wallahu a’lam bish-shawab.
Biodata Singkat Penulis
Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh lahir di Jember, 05 Januari 1984. Saat ini aktif sebagai pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali Podomoro, Pringsewu, Lampung dan juga sebagai Dosen di STIT Pringsewu. Dalam jejak pengabdiannya di struktur jam’iyah, beliau pernah dipercaya menjabat sebagai Ketua RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) pertama semenjak Kabupaten Pringsewu mekar dari Kabupaten Tanggamus. Penulis menaruh minat besar pada kajian sosial keagamaan, pendidikan pesantren, sanad keilmuan, dan literasi budaya. Dapat dihubungi melalui nomor WhatsApp: 081369740662 dan email: abdulhamidpring@gmail.com
Mari menjadi bagian dari ikhtiar intelektual Nahdlatul Ulama. Setiap gagasan yang lahir dari keikhlasan, tradisi pesantren, dan kecintaan kepada jam’iyah adalah warisan berharga bagi masa depan NU.
(Kontributor: Achamd Husen)