Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Rahasia Angka 140 di Wisuda PPTQ Al-Husna Pringsewu: Pesan Kiai Abdul Hamid tentang Ayat Pergiliran Zaman

Rahasia Angka 140 di Wisuda PPTQ Al-Husna Pringsewu: Pesan Kiai Abdul Hamid tentang Ayat Pergiliran Zaman

PRINGSEWU, Ada pemandangan yang tidak biasa sekaligus menggetarkan hati pada gelaran Wisuda Al-Qur’an ke-IX Pondok Pesantren Tahfidhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna, Bukit Raja Wali, Desa Podomoro, Kabupaten Pringsewu, Ahad (17/5/2026). Di antara riuh rendah lantunan ayat suci dan derai air mata haru para wali santri, sebuah “kebetulan” spiritual terungkap dari atas panggung.

Jumlah santri yang melangkah maju untuk diwisuda—mulai dari kategori hafalan 1 juz hingga khatam 30 juz—berjumlah tepat 140 santri.

Bagi Pengasuh PPTQ Al-Husna, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, angka ini bukanlah sebuah kebetulan matematis belaka. Kiai Abdul Hamid menangkapnya sebagai sebuah isyarah (tanda) langit yang begitu kuat, yang sengaja dititipkan Allah melalui Surat Ali Imran ayat 140:
وتلك الأيام نداولها بين الناس

“Dan masa (kejayaan dan kesedihan) itu Kami pergilirkan di antara manusia…”

Filosofi Mudawalah dan Harapan untuk Santri
Di hadapan ratusan pasang mata yang memadati halaman pesantren, Kiai Abdul Hamid menjabarkan makna mendalam di balik ayat tersebut.

Menurutnya, proses menghafal Al-Qur’an adalah miniatur dari perputaran roda kehidupan itu sendiri.
“Jumlah wisudawan kita hari ini tepat 140 santri, sama persis dengan nomor ayat tentang mudawalah—konsep pergiliran zaman. Ini adalah pesan cinta dari Allah,” tutur Kiai Abdul Hamid dengan nada sejuk namun penuh penekanan.

Pesan ini, lanjut sang Kiai, justru dialamatkan sebagai obat penawar rindu bagi para santri yang saat ini belum ikut naik ke panggung wisuda.
“Bagi anak-anakku yang hari ini belum berkesempatan ikut wisuda 1-30 juz, jangan berkecil hati apalagi patah semangat. Perjuangan kalian menjaga bait-bait suci belum selesai. Roda itu berputar. Insyaallah, tahun depan giliran kalian yang akan berdiri di panggung mulia ini,” ujar sang Kiai, disambut gema ketukan haru di hati para santri junior.

Menilik Redaksi Kitab Al-Kasyaf
Untuk mengupas tuntas hakikat pergiliran ini, Kiai Abdul Hamid kemudian menyitir redaksi asli dari kitab tafsir monumental karya Imam Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf:

نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ: نُصَرِّفُهَا بَيْنَهُمْ، نُدِيلُ لِهَؤُلَاءِ تَارَةً وَلِهَؤُلَاءِ تَارَةً… لِتَعْلَمُوا أَنَّ الدُّنْيَا دُوَلٌ لَا تَبْقَى عَلَى حَالٍ وَاحِدَةٍ
“Maksud dari ‘Kami pergilirlkan di antara manusia’ adalah Kami alihkan (hari-hari) itu di antara mereka. Kami berikan giliran (kebahagiaan atau kemenangan) kepada kelompok ini pada suatu waktu, dan kepada kelompok lain di waktu yang lain… Hal itu agar manusia tahu bahwa dunia ini mempergilirkan nasib dan tidak akan kekal atas satu keadaan saja.”

Menerjemahkan dalil tersebut ke dalam kehidupan kepesantrenan, Kiai Abdul Hamid mengingatkan bahwa dalam proses menghafal Al-Qur’an, santri pasti mempergilirkan banyak rasa: mulai dari rasa lelah, kantuk, air mata kebosanan saat deres (mengulang hafalan), hingga akhirnya berbuah kemanisan (halawah) di hari wisuda seperti sekarang.
“Hari ini, giliran 140 santri kita yang memanen senyuman atas lelahnya menyetor hafalan subuh demi subuh. Besok, giliran kalian. Yang paling penting bukan kapan kita wisuda, tapi seberapa istiqamah kita membersamai Al-Qur’an hingga akhir hayat,” pungkasnya.

Acara wisuda yang berlangsung di bawah rindangnya Bukit Raja Wali itu ditutup dengan doa kebangsaan dan keberkahan. Sebuah momentum yang tidak hanya melahirkan para penjaga wahyu baru, tetapi juga menyuntikkan energi optimisme baru bagi mereka yang masih mengantre dalam saf perjuangan.

( Kontributor: Achamd Husen)

Mulai Chat
1
Butuh bantuan? Hubungi kami
PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali
Assalamualaikum wr.wb.
Selamat datang di PPTQ Al-Husna
Ada yang bisa kami bantu?
Jangan lupa Simpan nomor ini supaya anda makin mudah mendapat informasi dari kami.
Exit mobile version