Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Di Atas Puing dan Keramik: Cahaya Istiqomah Sang Penjaga Wahyu

Di Atas Puing dan Keramik: Cahaya Istiqomah Sang Penjaga Wahyu

Pringsewu, Bukit Raja Wali, 20 Juli 2026 – Di bawah langit malam Bukit Raja Wali, saat kesunyian menjadi teman setia, pemandangan mengharukan tersaji di area pembangunan asrama Thakhiyah PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali. Di sana, di atas hamparan debu material dan kerangka lantai yang sedang dipasangi keramik, seorang santri bernama Ustadz Fauzi duduk dengan tenang, mendekap mushaf di dadanya.

Ia bukanlah sosok asing bagi pengasuh PPTQ Al-Husna, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh. Berasal dari Waluyojati, Ustadz Fauzi adalah potret langka santri akhir zaman. Meskipun secara usia beliau lebih senior dan di kediamannya sendiri telah membimbing banyak santri di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), kemuliaan hatinya tetap membumi.

Ia tetap memegang teguh tali istiqomah sebagai seorang penuntut ilmu. Bagi Ustadz Fauzi, tawadhu’ adalah jalan utama; ia tak merasa cukup dengan ilmu yang ada, melainkan terus menghafal dan memperdalam Kalam Ilahi dengan kerendahan hati yang agung.
Baginya, sami’na wa atha’na kepada gurunya bukan sekadar jargon, melainkan praktik nyata yang menguji keikhlasan.

Ia selalu siap menyetorkan hafalan—baik satu muka maupun satu halaman bolak-balik—kapan pun Kiai Hamid memiliki waktu, di mana pun tempatnya, dan jam berapa pun itu. Uniknya, ketaatan ini tercermin dari betapa ia telah menempati setiap jengkal bangunan yang ada di PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali sebagai tempat menyetorkan hafalannya; tidak ada satu pun bangunan di kompleks pondok yang pernah dinobatkan sebagai pondok terbersih se-Provinsi Lampung ini yang luput menjadi saksi bisu perjuangannya.

Bahkan, pernah suatu waktu di keheningan malam, saat dunia terlelap, Ustadz Fauzi tetap istiqomah menunggu Kiai Hamid untuk menyetorkan hafalannya tepat pada pukul dua dini hari.

Bagi santri lain, situasi seperti ini mungkin menjadi celah untuk mengambil libur, merasa lelah, atau mengeluh, namun tidak bagi Ustadz Fauzi; baginya, setiap detik adalah kesempatan emas untuk berkhidmah.

Bagi Kiai Hamid, sosok Ustadz Fauzi adalah anomali spiritual yang menggugah. Sang Kiai sering dibuat heran oleh ketaatan tersebut, seraya bertanya dalam batin,

“Masih adakah santri di zaman yang riuh ini yang memiliki keteguhan hati, kesantunan, dan ketaatan mutlak sedemikian rupa?”

Keteladanan Ustadz Fauzi melampaui logika waktu; ia tidak pernah menuntut kenyamanan.
Malam ini, sebuah isyaroh langit tampak nyata. Bagi Kiai Hamid yang tajam mata batinnya, nama “Fauzi” (الفوز) dalam Al-Qur’an terhitung sebanyak 29 kali. Subhanallah, di malam pembangunan asrama Thakhiyah, Ustadz Fauzi menuntaskan setoran hafalan terakhirnya tepat di ayat ke-29 Surat Fussilat:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا اللَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ
“Dan orang-orang yang kafir berkata, “Ya Tuhan kami, perlihatkanlah kepada kami dua jenis makhluk yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jin dan manusia, agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya keduanya menjadi orang yang paling hina (bawah).”

Dalam tafsir Al-Kashshaf karya Imam Az-Zamakhsyari, ayat ini menegaskan tentang kehinaan bagi mereka yang menolak kebenaran. Namun, bagi santri seperti Ustadz Fauzi, ayat ini adalah isyarat tentang “landasan yang kokoh.” Sebagaimana keramik yang disusun rapi menjadi lantai yang kuat, ayat ini menjadi pengingat bahwa kemenangan sejati (Al-Fauzu) diraih oleh mereka yang mampu menempatkan ego di bawah telapak kaki, menjadikannya pijakan untuk menuju derajat tinggi.

Pembangunan asrama Thakhiyah kini menjadi simbol fisik dari pembangunan jiwa.
Nama “Thakhiyah”( Semut yang berbicara pada Nabi Sulaiman ) sendiri disematkan sebagai do’a agar santriwati di dalamnya memiliki ketajaman visi dan tanggung jawab besar dalam melindungi sesama.

Ya Allah, jadikanlah nama Thakhiyah ini sebagai rahim pemimpin yang dicintai; tempat berkumpulnya santriwati yang taat, dan semoga kelak dari sini lahir ribuan kader pembela kebaikan yang sigap, cerdas, berhati mulia, serta senantiasa bersatu dalam barisan kepemimpinan yang membawa manfaat luas.

Di tengah kepulan debu bangunan, peristiwa malam ini menjadi saksi bahwa sebagaimana Ustadz Fauzi membangun hafalan di atas lantai yang belum sempurna, asrama Thakhiyah pun diharapkan akan tumbuh menjadi tempat lahirnya pemimpin masa depan yang waspada dan senantiasa menjadi pelindung bagi kebaikan umat.

( Kontributor: Achamd Husen)

SantriIstiqomah #PPTQAlHusna #BukitRajaWali #TahfizhQur’an #KisahInspiratif #PondokTerbersihLampung #PejuangAlQur’an #AsramaThakhiyah #IsyarahLangit

Exit mobile version