
Malam Jumat di Bukit Rajawali: Saat Langit Mengamini Gema Talbiyah Tamu Allah
Pringsewu, Bukit Raja Wali– Malam Jumat, 16 Juli 2026, menyelimuti Bukit Raja Wali dengan keheningan yang magis. Di bawah naungan rembulan, angin malam berhembus syahdu, seolah turut bersujud mengamini rangkaian doa yang dilangitkan para santri. Mereka berjejer rapi, menyemut di sepanjang komplek asrama putra dan putri hingga tumpah ruah memenuhi Aula Hud Hud.
Aula ini bukan sekadar dinding dan atap. Ia adalah ruang perenungan; sebuah pengingat akan kisah burung Hud-hud, sang pembawa kabar kebenaran di masa Nabi Sulaiman AS. Di tempat inilah, setiap permohonan yang dilangitkan dengan ketundukan jiwa seolah mendapatkan sayap untuk melesat menembus langit. Sebelum rombongan tamu Allah tiba, para santri telah lebih dulu “menjemput” keberkahan dengan melantunkan tawasul kepada para Masyayikh, melafalkan Surat Al-Mulk dan Al-Waqi’ah dengan khusyuk, serta melantunkan ayat-ayat suci lainnya yang dipadu dengan sholawat yang menggetarkan sanubari.
Apa yang mereka lakukan adalah ikhtiar batin yang mendalam, menyemaikan benih rida di kedalaman kalbu, selaras dengan kalam Ilahi:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman…” (QS. Al-Isra’: 82).
Keheningan pecah saat sebagian dari 78 jamaah umroh wilayah Pringsewu tiba di pelataran pondok. Meski sebagian rombongan lain harus segera bertolak ke rumah masing-masing setelah dijemput langsung di bandara, namun mereka yang hadir di Bukit Raja Wali adalah berkah yang tak terhingga. Mereka baru saja melangkah keluar dari pintu surganya dunia, membawa sisa-sisa wangi Raudhah di setiap helai pakaiannya.
Seketika itu pula, para santri menyambut dengan dentuman kalbu yang tumpah dalam gema Talbiyah. Suara “Labaik Allahumma Labaik” membahana, membelah malam, menghadirkan kembali getaran dahsyat di depan Ka’bah yang agung.
Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh, sang pengasuh, menyambut para tamu Allah dengan pelukan hangat, disusul isak tangis haru keluarga yang telah lama menanti kepulangan orang-orang tercinta. Dalam kemuliaan memuliakan tamu, beliau meresapi sabda Baginda Nabi SAW:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Momen puncak pun tiba. Para jamaah dikumpulkan menjadi satu di hadapan para santri. Dalam lingkaran cahaya iman, Kiai Hamid memimpin doa bersama. Suaranya bergetar, merendah di hadapan keagungan Allah, memohon agar berkah tanah suci yang dibawa para jamaah mampu “menulari” setiap sudut PPTQ Al-Husna dan PPM Baitul Qur’an.
Keyakinan itu terpahat kukuh dalam dada, sebab mereka sadar siapa yang sedang mereka mintai doa. Rasulullah SAW bersabda:
الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, dan orang yang berumroh adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka lalu mereka memenuhi panggilan-Nya, dan mereka memohon kepada-Nya lalu Allah mengabulkan permohonan mereka.” (HR. Ibnu Majah).
Malam Jum’at itu pun ditutup dengan perpisahan yang manis. Para jamaah beranjak pulang ke kediaman masing-masing, namun jejak keberkahan mereka telah tertanam dalam di Bukit Raja Wali. Doa-doa telah terijabah, janji-janji Allah telah terasa, dan bagi para santri, malam ini adalah kompas—sebuah janji pada diri sendiri untuk terus berkhidmat di bawah naungan Al-Qur’an hingga suatu saat nanti, giliran mereka yang akan dipanggil untuk melangkah ke Baitullah.
(Kontributor: Achmad Husen)
#TamuAllah
#Jama’ahUmrohAssa
#AlhsunaBukitRajaWali
#NabungDo’a
#SantriPenghalQur’an
#PonPesTerbersihSeLampung