Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Peringati Haul Masyayikh, PPTQ Mathla’ul Huda Ambarawa Wisuda 8 Penghafal Al-Qur’an 30 Juz

Peringati Haul Masyayikh, PPTQ Mathla’ul Huda Ambarawa Wisuda 8 Penghafal Al-Qur’an 30 Juz
AMBARAWA,– Yayasan Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Mathla’ul Huda Ambarawa menggelar khidmatnya acara Haul Masyayikh dan Wisuda Khotmil Qur’an 30 Juz pada Ahad (21/6/2026). Prosesi sakral ini menjadi momentum istimewa bagi delapan santri yang berhasil menyelesaikan setoran hafalan Al-Qur’an 30 juz.
Angka delapan yang melekat pada jumlah santri wisudawan ini menyimpan filosofi mendalam. Dalam tradisi pesantren, angka delapan sering dikaitkan dengan simbol infinity atau keberlanjutan yang tak terputus, selaras dengan semangat hafidzah dalam menjaga ayat-ayat Allah yang abadi. Selain itu, angka ini juga merefleksikan delapan pintu surga (abwabul jannah) yang dijanjikan bagi para penghafal Al-Qur’an yang istikamah menjaga hafalannya serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sambutannya, Pengasuh YPPTQ Mathla’ul Huda, KH Muballighin Adnan, S.Th.I, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam ke hadirat Allah SWT atas terlaksananya kegiatan ini. Beliau menyampaikan kebahagiaan dan kebanggaannya melihat santri-santri yang telah berhasil menuntaskan hafalan 30 juz di tengah berbagai tantangan belajar.

Acara yang dipusatkan di kompleks pesantren ini dihadiri oleh para alim ulama, kiai pengasuh pesantren sekitar, serta wali santri. Kemeriahan majelis terasa begitu kental dengan kehadiran ribuan jamaah yang memadati area pesantren sejak pagi hari untuk turut mendoakan para masyayikh dan menyaksikan prosesi wisuda.
Suasana khusyuk menyelimuti saat rangkaian acara dimulai. Sesuai tradisi dan tata krama pesantren, prosesi wisuda 30 juz ini diawali dengan pembacaan tahlil bersama untuk mendoakan para masyayikh yang telah wafat. Sedianya, tahlil akan dipimpin oleh KH Anwar Zuhdi, namun karena beliau belum tiba di lokasi, KH Muballighin Adnan pun segera mengambil kebijakan dengan meminta Assoc. Prof. Dr. KH Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh untuk memimpin lantunan tahlil tersebut.

Sesaat, waktu seolah berhenti bagi KH Abdul Hamid. Di hadapannya, duduk bersimpuh para kiai sepuh dan masyayikh, laksana gunung-gunung ilmu yang teduh namun agung. Sebuah gejolak batin merayap di dadanya; ia merasa diri hanyalah setitik debu di antara samudera ulama. Rasa “tidak layak” itu hadir bukan sebagai tanda penolakan, melainkan cermin dari adab yang terlampau dalam. Beliau merasa gemetar, merasa lancang harus menggantikan posisi yang semestinya diisi oleh kiai senior yang ditunggu.
Namun, di atas ego dan rasa sungkan itu, ada satu kompas yang menuntunnya: takzim. Adab kepada guru adalah mahkota yang tak boleh terlucut. Dengan napas yang tertahan dan kepala yang tertunduk dalam—menandakan kepasrahan seorang murid di hadapan perintah sang guru—beliau pun melangkah maju. Dengan suara yang bergetar namun khusyuk, beliau melantunkan tahlil. Setiap bait yang meluncur bukan sekadar bacaan, melainkan perpaduan antara kerendahan hati seorang hamba dan penghormatan setinggi langit kepada para alim ulama yang hadir.


Setelah tahlil usai, prosesi utama wisuda pun dimulai dengan penuh khidmat. Puncak acara kemudian diisi dengan tausiyah oleh KH Abdun Nashir Badrus. Dalam pesannya, beliau menekankan pentingnya menghargai waktu dan ilmu yang telah ditempuh selama enam tahun masa menghafal. “Pesan saya, jangan sekali-kali menyakiti gurumu yang telah menjadikanmu sebagai min khiyaril ummah (sebaik-baik umat), dan syukur-syukur bisa mencapai derajat min khiyaril qurra (sebaik-baik pembaca Al-Qur’an),” tegasnya.
Beliau juga berpesan agar para wisudawan senantiasa menghiasi diri dengan akhlak Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Berakhlaklah dengan akhlak Qur’an, bukan hanya sekadar hadits. Jagalah Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjagamu,” pungkasnya di hadapan ribuan jamaah yang hadir.


Wisuda khotmil Qur’an ini menjadi bukti nyata konsistensi PPTQ Mathla’ul Huda Ambarawa dalam mencetak generasi Ahlul Qur’an. Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah-tamah, yang diharapkan dapat memberikan motivasi tambahan bagi santri agar tetap istikamah dalam menjaga hafalan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat.

(Kontributor: Achmad Husen)

Exit mobile version