Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Membaca ‘Isyarah Langit’ di Bukit Raja Wali: Manasik Umrah Akbar ASSA Tour Travel Pringsewu

Membaca ‘Isyarah Langit’ di Bukit Raja Wali: Manasik Umrah Akbar ASSA Tour Travel Pringsewu

PRINGSEWU, Bukit Raja Wali – Suasana khidmat seketika menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna yang terletak di Bukit Raja Wali, Kabupaten Pringsewu. Di atas bukit yang tenang dan tinggi itu, angin berembus seolah membawa bisikan rindu yang mendalam menuju Baitullah.

Hari ini, Selasa, 2 Juni 2026, 70 an calon jamaah umrah dari ASSA Tour Travel berkumpul untuk mengikuti bimbingan manasik, sebuah momentum yang diibaratkan sebagai “gladi resik di taman langit” sebelum mereka benar-benar menginjakkan kaki di tanah suci Mekkah dan Madinah.

Acara ini dihadiri langsung oleh jajaran petinggi ASSA Tour Travel, yakni Hi. Taufik Hidayat selaku Owner (Pemilik) ASSA Tour Travel pusat, serta Hj. Ummu Lailatul M, Kepala Cabang ASSA Tour Travel Kabupaten Pringsewu.

Bukit Raja Wali: Miniatur Haramain dan Episentrum Keberagaman

Ada alasan filosofis mengapa PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali dipilih sebagai lokasi manasik. Pengasuh pondok pesantren sekaligus pemateri manasik hari ini, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh—atau yang akrab disapa Cak Hamid—menyebut Bukit Raja Wali ini sebagai “Miniatur Haramain” (dua tanah suci, Mekkah dan Madinah).

Sama halnya dengan tanah suci Mekkah dan Madinah yang menjadi titik kumpul umat Islam dari berbagai belahan dunia dengan latar belakang suku dan bahasa yang berbeda, Bukit Raja Wali pun menyimpan karakteristik sosiologis yang serupa. Tempat ini menjadi episentrum bertemunya para penuntut ilmu dari berbagai daerah.
Dengan gaya penyampaian yang enerjik, Cak Hamid memaparkan bahwa santri-santri yang menimba ilmu di PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali tercatat mewakili seluruh kabupaten/kota yang ada di Provinsi Lampung tanpa terkecuali. Tidak hanya itu, gema shalawat dan hafalan al-Qur’an di bukit ini juga dikumandangkan oleh santri-santri luar daerah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara; mulai dari Palembang sampai Aceh, Kalimantan, Sulawesi, hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pluralitas asal santri ini mengondisikan Bukit Raja Wali layaknya simulasi kecil dari miniatur dunia Islam, sangat selaras dengan atmosfer jemaah umrah ASSA Travel yang juga bersiap melebur dengan jutaan manusia di Baitullah nanti.

Isyarah Langit dari Nama Pemimpin

Cak Hamid, yang dikenal sebagai sosok akademisi muda yang enerjik, ulama berwawasan luas, sekaligus lulusan terbaik doktor UIN Raden Intan Lampung ini, dikenal sangat tajam dalam menangkap tanda-tanda atau isyarah langit. Beliau mengawali materinya dengan membedah makna mendalam di balik nama sang Owner dan Kepala Cabang ASSA Tour Travel.
“Ini bukan kebetulan, melainkan isyarah petunjuk dari Allah,” ujar Cak Hamid dengan suara lantang penuh semangat di hadapan ratusan jamaah yang menyimak dengan takzhim.

Beliau mengibaratkan Hi. Taufik Hidayat sebagai “Arsitek Perjalanan.” Sesuai dengan namanya, Taufik yang berarti pertolongan atau petunjuk Allah, dan Hidayat yang bermakna bimbingan, beliau adalah sosok di balik layar yang memastikan kendaraan rohani (travel) ini kokoh, aman, dan siap mengantarkan jemaah menuju rida Allah.

Sementara itu, Hj. Ummu Lailatul M digambarkan sebagai “Ibu Penuntun Langkah” di lapangan. Mengambil berkah dari kata Ummu yang berarti ibu, beliau dengan penuh kesabaran dan sentuhan keibuan mengayomi, membimbing, dan memastikan setiap detail proses ibadah para jemaah berjalan tertib di lapangan.

Di bawah bimbingan keduanya, miniatur Kakbah yang berdiri kokoh di tengah Bukit Raja Wali hari itu berubah menjadi “kompas hati” tempat para jemaah menyelaraskan langkah, memutar arah rindu melalui tawaf, dan menitipkan niat suci mereka.

Berkah Hari ‘Sel-Asa’ dan Tangga 2 Vs Infaq 200 Sak Semen

Tak hanya membedah nama, Cak Hamid juga mengupas filosofi hari pelaksanaan manasik, yaitu hari Selasa. Beliau mengaitkan singkatan kata Sel-Asa dengan nama travel, ASSA, serta sebuah momentum kemuliaan yang terjadi bertepatan pada tanggal 2 Juni ini.
Sebagai wujud syukur atas sinergi spiritual ini dan bentuk khidmah nyata terhadap dunia pendidikan Islam, Owner ASSA Tour Travel, Hi. Taufik Hidayat, secara simbolis menyerahkan infaq berupa 200 sak semen.

Bantuan ini dialokasikan langsung untuk mendukung percepatan pembangunan gedung asrama santri putri di kompleks PPTQ Al-Husna. Jemaah pun serentak mengamini doa kebaikan untuk keberkahan usaha dan keselamatan perjalanan umrah ASSA Travel ke depan.

Membedah JUNI: JUjurkan Niatmu dan Janji Untuk Nikmati.

Memasuki inti bimbingan, Cak Hamid membedah bulan JUNI menjadi dua pesan teologis dan mental yang sangat krusial bagi para calon tamu Allah:

  1. JU-NI: “Jujurkan Niatmu!”

Ibadah umrah dan haji adalah ibadah yang sangat istimewa, maka ujian pertamanya ada pada hati. Sejak melangkahkan kaki dari rumah, pasang niat yang kokoh. “Kita pergi ke Baitullah bukan untuk rekreasi, bukan untuk pamer status sosial, bukan pula demi berburu foto dan video untuk dipuji di media sosial. Jujurkan niatmu sehingga dapat menjaga niatmu agar tetap Lillahi Ta’ala.

Niat yang terjaga akan melahirkan keikhlasan, dan keikhlasan itulah yang mengetuk pintu rida Allah,” tegas Kiai lulusan terbaik doktor UIN RIL tersebut.

Niat suci ini diikat kuat dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 97:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ

“…Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana…” (QS. Ali ‘Imran: 97)

Serta ditegaskan kembali dalam awal Surat Al-Baqarah ayat 196:

…وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالُمْعْرَةَ لِلَّهِ ۚ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…” (QS. Al-Baqarah: 196)

Cak Hamid mengingatkan jamaah untuk memperhatikan dengan saksama bahwa ayat-ayat tentang haji dan umrah tersebut, baik di awal maupun di akhirnya, dikunci mutlak pada kalimat لِلَّهِ (Karena Allah).

Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada ruang sekecil apa pun untuk riya’ atau kesombongan.

  1. JU-NI: “Janji Untuk Nikmati!”

Pesan kedua adalah komitmen mental. Perjalanan umrah adalah perpaduan ibadah ruhani dan fisik. Di sana nanti, jamaah akan menghadapi realita cuaca panas, antrean panjang, jarak hotel, hingga berdesakan dengan jutaan manusia.

“Jangan biarkan keluhan merusak pahala umrah kita. Berjanjilah pada diri sendiri sejak hari ini untuk menikmati setiap detik prosesnya, menikmati ujiannya, dan menikmati indahnya bertamu ke rumah-Nya.
Ketika lelah melanda, nikmati dan syukuri, karena setiap peluh akan berganti dengan pahala,” pungkas Cak Hamid mantap.

Sebagai penutup bimbingan, Cak Hamid mengajak seluruh jamaah untuk turun langsung mensimulasikan ibadah fisik dengan mempraktikkan prosesi thawaf mengelilingi miniatur Kakbah milik pesantren. Di bawah bimbingan yang enerjik dari Cak Hamid dan pendampingan hangat dari Hj. Ummu Lailatul M, para jamaah bergerak khidmat berputar menyelaraskan langkah, melafalkan talbiyah yang menggetarkan jiwa, seolah-olah bukit itu benar-benar menjadi pelataran Masjidil Haram.

Melalui manasik dan praktik langsung di Bukit Raja Wali ini, para jamaah ASSA Tour Travel Pringsewu dipersiapkan agar saat berangkat nanti, mereka menjadi jamaah yang jiwanya telah matang, murni, dan siap mengetuk pintu Kakbah yang sesungguhnya demi meraih predikat umrah yang mabrur dan maqbul.

(Kontributor: Achmad Husen)

Mulai Chat
1
Butuh bantuan? Hubungi kami
PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali
Assalamualaikum wr.wb.
Selamat datang di PPTQ Al-Husna
Ada yang bisa kami bantu?
Jangan lupa Simpan nomor ini supaya anda makin mudah mendapat informasi dari kami.
Exit mobile version