Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menjemput Hikmah di Bumi Saeling: KH Abdul Hamid dan Estafet Silaturahmi Wali Santri di Tanggamus

Menjemput Hikmah di Bumi Saeling: KH Abdul Hamid dan Estafet Silaturahmi Wali Santri di Tanggamus

TANGGAMUS, saeling – Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Rajawali dan PPM Baitul Qur’an, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, kembali membuktikan bahwa silaturahmi adalah kunci pembuka keberkahan. Sosok kiai yang masyhur dengan kegemarannya “membangun rumah”—istilah beliau untuk menjalin ikatan persaudaraan—melanjutkan perjalanan panjang menyapa wali santri di wilayah Saeling, Sumberejo, Tanggamus, Rabu (15/07/2026).

Dalam lawatan seharian penuh tersebut, Kiai Hamid didampingi sang istri, Ibu Nyai Husnul Fadhilah, M.Pd. al-Hafizhah.

Rute perjalanan dimulai dengan menyambangi kediaman nay Mas Novi Andreanto, Bapak Hi. Kabul di Sumberejo, kemudian berlanjut ke kediaman Kiai Alimin, seorang alumni dari Pesantren Ploso, Kediri, dan wali nya Ning Istna kemudian ditutup dengan kunjungan ke kediaman Yai Zainal, alumni dari Jember.

Pertemuan para kiai ini di tanah Tanggamus terasa begitu hangat, seolah menyatukan sanad keilmuan dan rasa kekeluargaan yang lintas daerah.

Sebagai kiai yang peka terhadap isyarat-isyarat langit, Kiai Hamid tak melewatkan begitu saja filosofi di balik nama daerah “Saeling”. Beliau memaknainya melalui kacamata budaya Jawa dengan penuh kedalaman.
“Saeling, jika kita renungkan dari bahasa Jawa, adalah seng sae-sae diiling-iling. Artinya, hal-hal yang baik, kebaikan-kebaikan yang kita terima, harus senantiasa diingat dan dijaga dalam ingatan agar menjadi suluh dalam kehidupan,” tutur Kiai Hamid saat berbincang santai di tengah kebun.
Sepanjang hari, Kiai Hamid dan Ibu Nyai diajak berkeliling melihat potensi alam milik wali santri. Mulai dari kebun alpukat, salak, hingga jeruk yang ranum.

Baginya, kunjungan ini adalah sarana menyegarkan jiwa dari kejenuhan rutinitas pondok, sekaligus membaca ayat-ayat kauniyah yang mengajarkan tentang proses pertumbuhan dan buah dari ikhtiar.
Kaitannya dengan Al-Qur’an
Kiai Hamid menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan upaya memakmurkan silaturahmi sebagai bentuk syukur atas anugerah Allah SWT. Hal ini sejalan dengan spirit yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 69:

فَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69)

“Kunjungan ini adalah cara kita mengingat nikmat Allah (fadz-kuruu aala-allah). Dengan bersilaturahmi, kita tidak hanya mempererat persaudaraan, tetapi sedang memupuk keberuntungan dan keberkahan hidup,” pungkasnya.
Hari itu ditutup dengan keakraban yang cair. Perjalanan Kiai Hamid bukan sekadar berkunjung, melainkan sebuah proses “membangun rumah” hati—sebuah fondasi kuat agar hubungan antara pesantren, kiai, dan wali santri tetap kokoh dalam satu ikatan yang diberkahi Allah SWT.

( Kontributor: Achmad Husen)

Exit mobile version