
“Isyaroh di Bukit Rajawali: Saat Bintang-Bintang Agama Bertemu dalam Satu Ridha”
Pringsewu – Bukit Raja Wali, Suasana Sabtu (27/6/2026) malam di Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali terasa begitu syahdu. Sang pengasuh, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, kedatangan tamu istimewa, Gus Hi. Naimul Barokah dari PP NH Al-Aziziyah yang baru saja menuntaskan rukun Islam kelima, ibadah haji tahun 2026.
Belum sempat obrolan mengalir jauh, suasana semakin hangat dengan hadirnya dua sosok bersahaja, Tubagus Muhammad Nasaruddin Patoman dan sang kakak, Ajengan Tubagus Najmuddin dari Banten.
Kejadian ini terasa magis. Tanpa janji temu, tanpa kabar sebelumnya, mereka dipertemukan di puncak Bukit Rajawali. Saat perkenalan berlangsung, suasana berubah menjadi haru sekaligus takjub; ternyata mereka bertiga adalah alumni dari rahim pendidikan yang sama, PP Ash-Shiddiqiyah Jakarta.
Di sela obrolan, Kiai Hamid yang dikenal memiliki ketajaman mata batin dalam membaca tanda-tanda (isyaroh) tersenyum teduh. Ia menuturkan bahwa nama Masjid di pesantrennya, yakni Masjid Najmun Nasri (Bintang Rajawali), bukanlah sekadar nama tanpa makna.
“Bagi kami, masjid ini adalah Najmun Nasri atau Bintang Rajawali, sebuah simbol penunjuk arah bagi para pencari ilmu,” ungkap Kiai Hamid dengan nada khidmat. Ia lantas menatap Ajengan Najmuddin seraya menambahkan, “Isyaroh nama masjid ini seolah menemukan titik temunya hari ini.
Nama Najmuddin (Bintang Agama) hadir di Masjid Najmun Nasri. Bagi orang yang beriman, pertemuan kita di sini bukanlah kebetulan, melainkan takdir yang telah digariskan untuk saling menguatkan dalam ikatan dakwah.”
Pertemuan Para Pejuang Dakwah
Tak lama kemudian, hadir pula Hi. Fauzi Tanjung Kumala, melengkapi lingkaran silaturahmi tersebut. Di tengah obrolan ringan yang cair di ndalem Kiai Hamid, Ajengan Najmuddin—yang merupakan alumni Universitas Al-Azhar, Mesir—berbagi kisah tentang kehidupan ulama-ulama di Negeri Kinanah.
Mendengar penyebutan “Mesir”, Kiai Hamid yang peka terhadap isyaroh batin, segera mengambil celengan pribadinya yang bertuliskan “MESIR”. Ia meletakkan celengan itu di hadapan para tamu sebagai ikhtiar spiritual. “Agar Allah mudahkan langkah kita, agar kerinduan ziarah ke bumi para nabi dan ulama ini benar-benar Allah ijabah,” ucapnya penuh harap.
Dalam keakraban itu, Kiai Hamid merenungi barisan nama para tamunya. “Ada Najmun (Bintang) pada masjid kami, lalu datang Ajengan Najmuddin (Bintang Agama), kemudian Gus Naimul Barokah (Karunia Keberkahan)—yang baru membawa hawa suci dari Tanah Suci—hadir menyempurnakan silaturahmi. Ditambah lagi dengan Nasaruddin (Penolong Agama) serta Fauzi (Kemenangan/Keberuntungan). Nama-nama ini bukan kebetulan, ada isyaroh kuat bahwa ini adalah pertautan para pejuang yang membawa keberkahan dan kemenangan dakwah,” tuturnya.
“Doa yang Menembus Langit”
Obrolan pun berlanjut pada sisi humanis kehidupan para kiai muda ini. Ajengan Najmuddin (kelahiran 1982) dan Kiai Hamid (kelahiran 1984) menemukan banyak kesamaan, termasuk keduanya yang menikah di usia 21 tahun. Mereka pun berbagi kisah tentang “doa yang menghentikan siklus bulan” demi mengharap rida Allah dalam ibadah.
Kiai Hamid mengenang tahun 2016, saat ia merindukan anak kedua yang berjarak 10 tahun dari anak pertama. Ia teringat hadis Nabi SAW: “Tazawwajul waluudal waduuda fa innii mukaatsirun bikumul umam yaumal qiyaamah” (HR Abu Daud, an-Nasa`i, dan Ahmad). “Saya bicara dengan Kanjeng Nabi saat itu, ‘Ya Rasul, hadis ini menunjukkan Engkau senang dengan banyaknya umat, apakah njenengan tidak sayang pada saya sekeluarga karena baru punya anak satu? Jika Engkau sayang, sampaikanlah kepada Allah, agar Allah menutup rahim istri saya sehingga tidak halangan dan menjadi janin’,” kenang Kiai Hamid.
Doa itu terbukti, Gus Fatih lahir tahun 2017. Bahkan, kelahirannya terjadi dua hari sebelum Kiai Hamid berangkat haji, sehingga beliau bisa bersimpuh ke Raudhah dengan hati yang penuh syukur karena mengabulkan permohonannya atas washilah Kanjeng Nabi.
Tak mau kalah, Ajengan Najmuddin berbagi kisah saat umroh. Setibanya di Jeddah, sang istri mendapatkan uzur syar’i. “Saya merayu Allah dengan penuh kerendahan hati agar halangan itu berhenti sejenak demi menyempurnakan ibadah. Alhamdulillah, Allah kabulkan,” kisahnya.
“Berkah Dini Hari di Bukit Rajawali”
Malam semakin larut, namun obrolan para kiai muda ini justru kian mendalam hingga dini hari. Sebelum para tamu beranjak pulang pada pukul 02.03 WIB, Kiai Hamid mengajak mereka berkeliling meninjau proses pembangunan asrama putri yang sedang berjalan.
Di bawah langit malam Bukit Rajawali, Kiai Hamid secara khusus meminta Ajengan Najmuddin untuk memanjatkan doa terbaik bagi bangunan tersebut. Harapannya, asrama yang sedang dibangun ini nantinya menjadi tempat lahirnya generasi penghafal Qur’an yang tangguh.
Momen dini hari itu menjadi penutup yang khidmat. Silaturahmi yang terbangun bukan hanya sekadar temu kangen antaralumni, melainkan perjumpaan batin para pejuang dakwah yang percaya bahwa setiap langkah, nama, dan waktu pertemuan memiliki isyaroh ilahiyah yang menuntun mereka pada kebaikan.
(Kontributor: Achmad Husen)