Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menelusuri Samudra Fiqih dan Ketundukan Mutlak: Ziarah Spiritual kiai Hamid ke Pesarehan Imam al-Syafi’i

Menelusuri Samudra Fiqih dan Ketundukan Mutlak: Ziarah Spiritual kiai Hamid ke Pesarehan Imam al-Syafi’i

KAIRO — Rihlah spiritual dan intelektual pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an Lampung, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh terus mengalir membawa derap kecintaan yang mendalam kepada para imam mazhab dan ulama salaf.

Menembus keheningan bumi Kairo, langkah kaki sang kiai bersama rombongan berayun melanjutkan ziarah menuju salah satu pusara paling agung dan bersejarah di dunia Islam: makam muassis mazhab yang banyak dianut umat Islam Nusantara, Imam al-Syafii rahimahullah.

Berdiri di hadapan makam Imam al-Syafii, suasana batin seakan tersedot ke dalam kedalaman samudra ilmu fikih dan keikhlasan yang luar biasa. Ziarah ini bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan sebuah bentuk tabarruk dan penyambungan sanad ruhani kepada sang imam mujtahid yang dikenal memiliki kecerdasan luar biasa sekaligus keluhuran akhlak yang tak tertandingi.

Imam al-Syafii memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’id bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdu Manaf al-Qurasyi al-Muththalibi. Beliau lahir di Gaza, Palestina, pada tahun 150 Hijriah—tahun wafatnya Imam Besar Abu Hanifah an-Nu’man—dan wafat di Kairo, Mesir, pada tahun 204 Hijriah.

Beliau adalah seorang ulama besar ahli hadits sekaligus pendiri mazhab fikih Syafii yang pilar-pilar pemikirannya mendominasi dunia Islam, khususnya Asia Tenggara.
Dalam menimba ilmu, Imam al-Syafii berguru kepada banyak ulama besar di masanya.

Guru utama beliau dalam bidang fikih dan mazhab Hijaz adalah imam darul hijrah, Imam Malik bin Anas, di mana Imam al-Syafii menghafal dan mengkaji kitab Al-Muwaththa’ di bawah bimbingan langsung sang imam. Selain itu, beliau juga berguru kepada Muslim bin Khalid al-Zanji di Makkah, serta mengambil ilmu dari para ulama terkemuka di Irak yang merupakan murid-murid dari mazhab Imam Abu Hanifah, seperti Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani.

Perpaduan antara mazhab hadits (Hijaz) dan mazhab ra’yi (Irak) inilah yang melahirkan metodologi istimbat hukum Islam (ushul fikih) yang sangat komprehensif melalui mahakaryanya, kitab Al-Risalah.

Di balik kejeniusan intelektual dan luasnya samudra keilmuan Imam al-Syafii, tersimpan sebuah teladan agung tentang kepatuhan mutlak (sami’na wa athana) kepada orang tua dan guru-gurunya. Sejak kecil, beliau dibesarkan dalam kondisi yatim oleh ibunda tercinta, seorang wanita mulia penuh kesabaran yang membimbing langkahnya menuntut ilmu dari Gaza ke Makkah, Madinah, hingga Yaman dan Irak. Segala arahan, nasihat, dan restu ibundanya senantiasa beliau junjung tinggi tanpa pernah membantah, karena beliau meyakini bahwa ridha Allah terletak pada ridha orang tua dan guru.

Kepatuhan serupa juga beliau tunjukkan kepada guru-guru beliau, terkhusus kepada Imam Malik bin Anas. Meskipun beliau telah menjadi ulama yang cerdas, adab dan ketundukan beliau di majelis guru bagaikan seorang hamba sahaya di hadapan rajanya. Sikap sami’na wa athana—mendengar dan menaati petunjuk kebaikan dari ibu dan para masayikhnya—inilah yang kemudian menjadi kunci utama dibukanya pintu-pintu keberkahan ilmu, sehingga risalah mazhabnya terus hidup dan menerangi umat hingga akhir zaman. Keteladanan mulia inilah yang senantiasa dijaga dan ditanamkan oleh kiai Hamid dalam membimbing para santri di pesantren, bahwa ketinggian ilmu harus selalu dibarengi dengan kelurusan adab dan ketundukan kepada guru serta orang tua.

Dalam berbagai kitab turats, Imam al-Syafii meninggalkan banyak sekali nasehat emas yang sangat berharga bagi siapa saja yang meniti jalan pencari ilmu (thalibul ilmi). Di antara nasehat beliau yang paling mashur adalah perkataan beliau tentang pentingnya kesabaran dalam menanggung pahitnya proses belajar:

سَافِرْ فَلِكَ فِي الْأَوْطَانِ اغْتِرَابُ … وَانْصِبْ فَإِنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

“Merantaulah, karena ada kenikmatan hidup dalam perantauan (meninggalkan negeri)… Dan bersusahpayahlah, karena lezatnya hidup itu berada dalam jerih payah (kesungguhan).”
Beliau juga mengingatkan syarat mutlak bagi seorang penuntut ilmu agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat melalui bait sya’irnya yang sangat legendaris:

أخي لن تنال العلم إلا بستة … سأنبيك عن تفصيلها ببيان:
ذكاء وحرص واصطبر وبلغة … ودرس أحياء وصحبة أستاذ

“Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara… Akan aku kabarkan perinciannya dengan jelas kepadamu: Kecerdasan, semangat yang kuat, sabar, memiliki bekal (biaya/fasilitas), petunjuk (bimbingan) guru, dan waktu yang panjang (kontinuitas dalam belajar).”

Semoga ziarah batin ke pesarehan Imam al-Syafii ini semakin melimpahkan keberkahan yang agung, memperkokoh manhaj keilmuan pesantren, serta mengalirkan semangat juang, adab, dan ketulusan dalam merawat warisan para ulama salaf di bumi Nusantara. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Kontributor: Achmad Husen

#RihlahSpiritual #ZiarahKairo #ImamAsSyafii #SejarahIslam #KHAbdulHamid
#BukitRajawali
#BaitulQuran #PesantrenLampung #AdabPenuntutIlmu #ZiarahMesir

Exit mobile version